Ubah Pekarangan Jadi Ruang Hijau, Undana Dampingi Warga Terapkan Xeriscape dan Vertical Planter

Avatar
POSE BERSAMA : Tim Pelaksana PkM Undana pose bersama warga Oebufu usai kegiatan, 27 Agustus 2026 lalu.

KUPANG — Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Program Studi Arsitektur, Fakultas Sains dan Teknik, Universitas Nusa Cendana (Undana) melaksanakan kegiatan pendampingan pemanfaatan pekarangan rumah sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) skala mikro bagi warga Kelurahan Oebufu, Kecamatan Oebobo, Kota Kupang.

Kegiatan bertajuk “Kriya-Karya-Berdaya” ini menawarkan model penataan pekarangan yang hemat air, hemat lahan, terjangkau, dan dapat direplikasi warga secara mandiri.

Koordinator Tim Pelaksana, Theodora Murni Taulaka mengatakan, kegiatan tersebut berangkat dari persoalan yang dihadapi Kota Kupang ; ketersediaan ruang terbuka hijau yang masih berada di bawah standar nasional 30 persen dari luas wilayah kota, sebagaimana diamanatkan Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Dalam paparan Rancangan Peraturan Daerah tentang RTRW Kota Kupang Tahun 2025–2044 pada Oktober 2025, Pemerintah Kota Kupang menyebutkan capaian RTH kota saat ini baru sekitar 7,76 persen, dengan target bertahap mencapai 20 persen pada tahun 2044. Kondisi ini berdampak pada menurunnya kualitas udara dan meningkatnya dampak panas perkotaan.

Dari proporsi 30 persen tersebut, kata Theodora, 10 persen di antaranya merupakan RTH privat yang melekat pada lahan milik warga, termasuk pekarangan rumah. Di lingkungan permukiman padat, pekarangan justru kerap menjadi ruang sisa yang berubah menjadi area terbangun.

“Keterbatasan lahan, keterbatasan air, minimnya pengetahuan teknis, serta kebutuhan akan solusi yang murah dan mudah dirawat menjadi kendala utama warga dalam menghijaukan pekarangannya,” ujar Theodora.

Sosialisasi dan transfer pengetahuan kepada masyarakat ini dilaksanakan pada 27 Agustus 2026 di Kelurahan Oebufu. Kegiatan tersebut dihadiri Lurah Oebufu, Mario A. K. Meze, bersama ketua RT dan warga peserta. Materi utama mengenai RTH mikro, xeriscape, dan vertical planter disampaikan oleh Dr. I Gusti Ngurah Wiras Hardy, dilanjutkan presentasi mahasiswa Program Studi Arsitektur mengenai panduan praktis serta contoh penerapan kedua teknik tersebut di pekarangan rumah warga.

BACA JUGA:  Pemkot Terus Tunjukkan Kepedulian Sosial, Kembali Salurkan Bantuan Kursi Roda untuk Warga Difabel

Xeriscape diperkenalkan sebagai teknik penataan lanskap hemat air yang sesuai dengan iklim kering Kota Kupang. Prinsipnya mencakup pemilihan tanaman adaptif yang tahan kering, pengelompokan tanaman menurut kebutuhan air, penggunaan mulsa atau penutup permukaan tanah untuk menekan penguapan, perbaikan media tanam, serta penyiraman yang tepat sasaran. Berbagai kajian mencatat penataan hemat air dapat memangkas pemakaian air luar ruang secara signifikan dibandingkan taman konvensional.

Sementara itu, vertical planter diterapkan untuk memanfaatkan bidang tegak – dinding, pagar, teralis, atau rak sederhana sebagai media tanam, sehingga pekarangan sempit tetap dapat dihijaukan tanpa mengurangi ruang gerak penghuni.

Selain menambah luasan hijau, penghijauan vertikal juga membantu menaungi dinding dari sinar matahari langsung dan memperbaiki kenyamanan termal rumah.

Uji fasad hijau pada iklim tropis menunjukkan penurunan suhu permukaan dinding rata-rata sekitar 2,2 derajat Celsius dan suhu udara dalam ruang sekitar 1 derajat Celsius.

Bagi Bibit Tanaman

Pada akhir kegiatan sosialisasi, Tim PkM membagikan bibit tanaman kepada warga Kelurahan Oebufu untuk ditanam di pekarangan rumah masing-masing maupun di lingkungan kelurahan. Pembagian bibit ini dimaksudkan agar pengetahuan yang diperoleh warga dapat langsung dipraktikkan sejak hari pelaksanaan.

Selain sosialisasi, transfer pengetahuan, dan pembagian bibit, Tim PkM juga menghasilkan produk berupa desain sekaligus realisasi taman mikro di sejumlah rumah warga Kelurahan Oebufu, yakni di RT 002 RW 001, Jalan Damai, dan Jalan HTI Maulafa.

Ketiga lokasi tersebut disiapkan sebagai unit percontohan yang dapat diamati langsung dan direplikasi secara mandiri oleh warga lain. Pendekatan ini dipilih karena contoh nyata di lingkungan sendiri terbukti lebih meyakinkan dibandingkan penjelasan di atas kertas, sekaligus membuka peluang penularan praktik penghijauan antartetangga.

BACA JUGA:  Jelang Pilkades Manggarai Barat: Forum Peduli Mabar dan Keuskupan Labuan Bajo Serukan Jaga Kamtibmas

Sepanjang pelaksanaannya, lanjut Theodora, program ini menempatkan warga bukan sebagai penerima bantuan, melainkan sebagai pelaku utama. Warga terlibat sejak identifikasi kondisi pekarangan, penyusunan rancangan sederhana, hingga pengerjaan taman mikro secara gotong royong.

Nama “Kriya-Karya-Berdaya” sendiri merangkum tiga tahap kerja tersebut: kolaborasi desain karya bersama (Kriya), pemanfaatan pekarangan secara swadaya (Karya), dan kemandirian warga dalam merawat serta mengembangkan hasilnya (Berdaya).

Kegiatan ini sekaligus menjadi wujud komitmen Program Studi Arsitektur dan Universitas Nusa Cendana untuk memberikan dampak langsung kepada masyarakat, serta bentuk implementasi agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Program ini mendukung SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan melalui penguatan RTH skala rumah tangga; SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim melalui adaptasi lingkungan permukiman terhadap panas perkotaan; SDG 15: Ekosistem Daratan melalui penambahan vegetasi dan perbaikan kualitas lingkungan pada skala lokal; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara masyarakat, akademisi, praktisi, dan pemerintah.

Dengan rangkaian kegiatan tersebut, program ini diharapkan menjadi model pengabdian yang aplikatif, tepat guna, dan berkelanjutan bagi terwujudnya lingkungan hunian yang lebih nyaman dan sehat di Kota Kupang.

Adapun tim pelaksana kegiatan ini antara lain, Theodora Murni C. Tualaka, Dr. I Gusti Ngurah Wiras Hardy, Imanuel N. Mbake, Debri Andries Amabi, Nur Kharismawardani, dan Maria L. Hendrik.