Rote Ndao Mengajar 2026: Gerakan Cerdas Bangun Masa Depan Generasi Muda

Avatar
POSE BERSAMA : Tim Rote Ndao Mengajar 2026 pose bersama usai rapat persiapan, pekan kemarin.

KUPANG – Pemkab Rote Ndao bersama Komunitas Anak Muda (Kamu) menggagas gerakan kolaboratif membangun masa depan generasi muda Rote Ndao.

Gerakan yang mengusung tagline Sehari Mengajar Seumur Hidup Menginspirasi itu merupakan upaya cerdas membangun masa depan anak-anak Rote Ndao.

Program ini dijadwalkan berlangsung 23-25 Agustus dan melibatkan relawan dari berbagai latar belakang profesi, akademisi, profesional, pelaku usaha, hingga komunitas dari berbagai daerah dan diaspora Rote Ndao yang berada di luar daerah.

Program yang akan menyasar 33 sekolah tingkat SD, SMP dan SMA/SMK di wilayah Kabupaten Rote Ndao itu, diyakini mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), sekaligus menjadi investasi penting menuju Rote Ndao maju dan berkelanjutan.

Koordinator Partnership Rote Mengajar, Angky Hanas, mengatakan, gerakan Rote Ndao Mengajar 2026 menjadi salah satu langkah kolaboratif untuk mendorong peningkatan kualitas pendidikan sekaligus membangun masa depan generasi muda Rote Ndao.

Kehadiran diaspora dan relawan dari berbagai latar belakang itu dinilai menjadi kekuatan penting karena dapat membawa pengetahuan, pengalaman, jejaring, serta semangat untuk kembali berkontribusi bagi daerah asal.

Rote Ndao Mengajar tidak hanya dipandang sebagai kegiatan mengajar di ruang kelas, tetapi sebagai gerakan bersama untuk menanamkan motivasi, memperluas wawasan, dan membuka perspektif baru bagi anak-anak Rote Ndao tentang pendidikan dan masa depan mereka.

Keterlibatan para diaspora menjadi bagian penting dalam gerakan tersebut. Mereka diharapkan dapat berbagi pengalaman serta pengetahuan yang diperoleh selama berada di luar Rote Ndao kepada generasi muda di daerah.

Gerakan kolaboratif merupakan bentuk investasi jangka panjang. Sebab, kata Angky, pembangunan sumber daya manusia membutuhkan proses yang berkelanjutan.

Anak-anak Rote Ndao perlu mendapatkan akses terhadap pengetahuan, inspirasi dan pengalaman dari berbagai pihak agar memiliki kepercayaan diri untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

BACA JUGA:  Pentas Seni dan Tarian Dolo-Dolo, Upaya Kelurahan Solor Rawat Warisan Leluhur

“Anak-anak di Rote selama ini cenderung mengenal profesi yang ada di sekitar mereka, seperti guru, anggota TNI-Polri, bidan atau perawat. Padahal masih banyak profesi lain yang bisa mereka cita-citakan. Di situlah para relawan hadir untuk memperluas wawasan mereka,” katanya

Melalui Rote Ndao Mengajar 2026, kata Angky, semangat membangun daerah tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun lembaga pendidikan, tetapi menjadi gerakan bersama yang melibatkan masyarakat, diaspora, tenaga pendidik dan berbagai kelompok lainnya.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi muda Rote Ndao yang memiliki kompetensi, karakter dan kepedulian terhadap daerah asalnya.

“Pada akhirnya, investasi terbesar bagi masa depan Rote Ndao bukan hanya terletak pada pembangunan fisik, tetapi juga pada manusia-manusia muda yang dipersiapkan untuk menjadi generasi penerus pembangunan daerah,” ujarnya.

Angky melanjutkan, gagasan Rote Mengajar sebenarnya pernah dilaksanakan pada 2015 oleh sejumlah tokoh muda Rote Ndao. Namun, program tersebut sempat terhenti sebelum akhirnya dihidupkan kembali melalui dukungan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao di bawah kepemimpinan Bupati Paulus Henuk.

Ia mengatakan, konsep gerakan ini sebelumnya pernah diperkenalkan saat Kabupaten Rote Ndao baru terbentuk sebagai ajakan kepada diaspora untuk kembali mengisi berbagai posisi pemerintahan yang masih kosong.

Kini, semangat tersebut diperluas dengan mengundang para diaspora dan profesional dari berbagai bidang untuk pulang mengabdi, meski hanya sehari, melalui kegiatan kelas inspirasi di sekolah-sekolah.

“Kami ingin anak-anak memiliki perspektif yang lebih luas mengenai pilihan pendidikan dan profesi. Mereka bisa mengetahui perjalanan para profesional, tantangan yang dihadapi, hingga langkah-langkah untuk mencapai cita-cita mereka,” ujarnya.

Rangkaian Kegiatan

Pada hari pertama, para relawan akan tiba di Rote Ndao, mengikuti penyambutan dan pembekalan di rumah jabatan bupati bersama psikolog pendidikan sebelum diberangkatkan ke sekolah-sekolah tujuan.

BACA JUGA:  Di Reses Absalom Sine, Warga Usul Bangun TPU di Lasiana

Selanjutnya, para relawan akan menjalani program live in dengan tinggal di sekitar lokasi sekolah agar dapat berinteraksi lebih dekat dengan masyarakat.

Puncak kegiatan berlangsung pada 24 Agustus melalui pelaksanaan kelas inspirasi di 33 sekolah yang tersebar di Kabupaten Rote Ndao. Setiap sekolah akan didampingi sekitar enam hingga tujuh relawan dari berbagai latar belakang profesi.

Pada hari terakhir, seluruh relawan kembali berkumpul di Kota Baa untuk mengikuti Diskusi Kebangsaan bersama pemerintah daerah. Forum tersebut rencananya menghadirkan mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said serta mantan Menteri Perdagangan Gita Wirjawan sebagai narasumber.

Anggota Partnership Rote Mengajar, Sherwin Ufi, mengatakan panitia masih membuka pendaftaran relawan hingga pekan ini sebelum dilakukan pembagian ke sekolah-sekolah.
Ia menambahkan, penyelenggaraan tahun ini juga menghadirkan inovasi berupa skema pendampingan atau mentoring, khususnya bagi siswa tingkat SMA.

Menurut Sherwin, banyak pelajar yang masih kebingungan menentukan arah pendidikan maupun profesi yang ingin mereka tekuni setelah lulus sekolah.

“Kalau mereka ingin menjadi dokter, masuk IPDN, atau profesi lainnya, maka mentor akan membantu memberikan gambaran mengenai langkah-langkah yang harus dipersiapkan sejak dini,” katanya.

Skema tersebut akan diuji coba pada pelaksanaan tahun ini dan diharapkan menjadi model pendampingan berkelanjutan yang semakin diperkuat pada penyelenggaraan berikutnya.

Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menargetkan Rote Mengajar menjadi agenda tahunan sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia berbasis kolaborasi.

Selain memperkuat kualitas pendidikan di Rote Ndao, program ini juga diharapkan menjadi proyek percontohan yang dapat direplikasi oleh kabupaten dan kota lain di Nusa Tenggara Timur.

Sejumlah akademisi, tokoh diaspora Rote, serta profesional yang berada di Kota Kupang maupun di luar NTT disebut telah menyatakan minat dan mendaftarkan diri sebagai relawan untuk berbagi inspirasi kepada generasi muda di Kabupaten Rote Ndao.

BACA JUGA:  Kuota Jalur Zonasi SPMB Jangan Dibatasi